Hubungan kiai dengan santri seperti
hubungan anak dengan orang tuanya. Bahkan hubungan kiai dengan santri bisa
lebih akrab dan intens dari pada hubungan anak dengan orang tua. Hal ini
dikarenakan kuantitas dan kualitas pertemuan yang mereka jalin. Dalam beberapa
keterangan hadist disebutkan bahwa orang tua yang paling mulia adalah orang
yang memberi kamu ilmu. Karena orang tua yang melahirkan kamu adalah orang yang
mengantarkan kamu ke dunia. sedangkan orang yang memberi kamu ilmu adalah orang
yang akan memberi cara untuk meraih duniamu dan akhiratmu.
Ngendikani kiai saya, orang tua ada tiga, yang melahirkan kita, yang memberi kita ilmu (kiai) dan anaknya yang kita nikahi (moro tua). Orang tua tersebut mempunyai peran masing-masing dalam waktu yang berbeda. Orang tua yang melahirkan kita akan menemani kita sampai di kehidupan pertama di dunia. Kehidupan kedua nanti kita akan ditemani oleh moro tua. Sedangkan kiai akan menemani kita di kehidupan pertama dan kedua. Jadi jangan heran bila ada murid, khususnya santri yang sangat fanatik terhadap kiainya. Fanatik disini bukan berarti kekerasan dan melakukan tanpa berlogika. Fanatik adalah mencintai dan meneruskan perjuangannya.
Salah satu penyebab kefanatikan itu
adalah hubungan yang dijalin dengan rasa kekeluargaan dan saling perhatian
antara kiai dan santri. Hal ini yang saya rasa ketika saya sowan kepada kiaiku
“Kiai Ton”. Nama lengkapnya adalah K.H. Sulthon Abdul Hadi salah satu pengasuh
ribath di ponpest Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Sebelum sowan perasaan takut
bercampur sungkan terus menyelimuti hati dalam mengarungi waktu. Tetapi berkat
dorongan dari teman saya yang bernama “Kelet” akhirnya pagi hari sekitar jam
08.45 saya sowan kepada Kiai Ton.
Pada waktu itu, bertepatan kiai
sulton sedang duduk nyantei dengan “Bu Nyai Mutmainnah, putri dari kiai Fattah
Hasyim” keramahan dari kiai ton pun meyambutku. Bagaimana kabarnya mahasiswa
jogja? Baik kyai. udah sekarang kamu ceritakan apa yang ingin kamu ceritakan.
Setelah kiai bilang seperti itu, bagaikan bidadari turun dan menyambut mesra
kedatanganku. Jarang-jarang ada kiai yang menyampaikan dakwahnya dengan dialog.
Biasanya kiai NU menyampaikan wejangannya dengan satu arah, yang memposisikan
santri sebagai objek yang siap melaksanakan wajangan-wejangannya. Tetapi ini perlakuan
berbeda yang saya alami. Mungkin kiai telah melihat saya sebagai mahasiswa yang
sudah biasa berposisi sebagai subyek dan obyek.
Pertanyaan pertama saya adalah: apa
makna esensi alumni MMA, menurut saya pribadi alumni MMA harus bisa baca kitab
sekelas fathul muin dan fathul wahab, tetapi kiai beban akademik dan kebutuhan
bahasa inggris semakin meningkat, disamping itu waktu yang aku punya juga
sangat terbatas. Mana yang harus didahulukan kiai? Lanjut ke pertanyaan kedua:
bagaimana cara mengatur waktu dan waktu yang ideal untuk menghafal?
Dan ini adalah rangkuman ngendikani
kiai sulthon yang berusaha saya rubah ke dalam bentuk deskriptif:
1. Kita
harus bisa membedakan antara kebutuhan primer, sekunder dan tersier termasuk
dalam belajar. Hal penting yang harus kita perhatikan dalam belajar adalah
deadline. Kita harus menyelesaikan apa-apa yang ada di hadapan kita yang
bersifat wajib. Karena kewajiban itu ada batas waktunya. Saat ini kamu, fokus
terhadap akademik kamu, kepenulisan kamu dan bahasa kamu.
Untuk belajar kitab kuning
dibutuhkan kefokusan dan tidak bisa di ganggu agar hasilnya maksimal. Dalam belajar kitab juga
harus linier dari awal sampai akhir. Seumpama fikih yaa fikih saja dari mabadi’
sampai yang terbesar. Karena sesuatu itu harus ada yang dikalahkan, Dan kamu
juga harus memilih.
2. Meniru orang lain boleh asalkan modalnya kuat.
Seperti meniru Gus Dur dalam hal tidurnya Cuma tiga jam dalam sehari. Boleh
saja asalkan kita kuat. Yang perlu kita perhatikan adalah potensi kekuatan kita
untuk meniru kuat atau tidak, kalau tidak kuat di khawatirkan akan memperburuk
hidup kita. Karena ALLAH sendiri tidak pernah memaksa kepada hambanya. Memaksa
diluar batas kemampuan kepada siapapun termasuk diri sendiri, haram hukumnya.
Ketika kita memaksa hidup kita yang ditakutkan kita tidak bisa bersyukur atas
anugerah yang sudah ALLAh berikan kepada kita.
3. Ulama
salafussholeh membagi waktu istirahat pada malam hari menjadi tiga bagian.
Empat jam untuk belajar, empat jam untuk istirahat dan empat jam lagi untuk
ibadah. Ulama membagi ini karena mereka memahami bahwa otak juga memerlukan
istirahat. Istirahat yang total itu terdapat dalam keadaan tidur. Hanya nafas
saja yang tidak istirahat ketika tidur. Waktu selama 24 jam, sisahkan maksimal
empat jam untuk tidur. Untuk ulama yang sudah menempati maqom tinggi biasanya
tidurnya kurang dari empat jam, seperti embah arwani, tidurnya hanya dua jam.
Jam sebelakita zs sampai dua belas, siang dan malam.
4. Menulis
ibaratnya kita memberi kepada orang lain, kalau menghafal kita memberi kepada
diri kita sendiri. Ada hak-hak yang harus kita penuhi dalam diri kita,
contohnya: haknya jasmani, kita penuhi dengan olah raga, haknya hati, kita
penuhi dengan tirakat, haknya otak kita penuhi dengan membaca, menghafal dan
menulis. Ketiga-tiganya harus seimbang. Ketika memenuhi hak-hak tersebut
alangkah baiknya kita memperhatikan taming yang tepat. Seperti halnya waktu
menghafal, harus kita carikan kapan waktu terbaik untuk menghafal?. Ketika hal
ini saya tanyakan kepada kiai ton, jawaban beliau adalah waktu pagi. Karena
waktu pagi adalah waktu yang penuh barokah dan kalau di buat menghafal akan
cepat nyantol.
5. Orang
wiritan dalam kesehariannya dalam memandang dunia berbeda dengan orang yang
tidak wiritan. Lebih jauh lagi, ketika merasakan dunia. Semestinya kita telah
memahami bahwa dunia yang kita hadapi saat ini adalah tipuan. Tipuan terbesar
dunia berbentuk dalam tiga hal, harta, wanita dan tahta. Pandangan dan sikap
orang yang wiritan akan berbeda dan lebih kuat dalam menghadapi cobaan
tersebut.
6. Semua
ciptaan ALLAH mengandung hikmah yang kita pikirkan. Mengapa ALLAH menciptakan
kambing yang makannya di tanggung oleh empunya dan boleh di sembelih oleh
empunya, mengapa ada semut, meskipun kecil tapi kita haram untuk membunuhnya
karena kita tidak memberi makan kepadanya. Kita boleh memikirkan ciptaanya
ALLAH saja tidak boleh mencampuri hak-hak tuhan. mengapa ALLAH menciptakan non
muslim berhati baik, berprilaku terpuji sedangkan orang orang muslim sendiri
berprilaku sebaliknya. Ini hak ALLAH jangan kau masuki. Yang terpenting kamu
menjalankan sesuai perintahnya.
7. Semuanya
adalah takdir ALLAH, baik atau buruk tanpa terkecuali. Bukan berarti takdir
tanpa sebab. Sebab merupakan bagian dari takdir. Orang sakit, murni takdir dari
ALLAH, lantaran kurang gizi atau pola hidup yang kurang sehat, itu semuanya
adalah sebab, bukan takdir. Tidak ada yang bisa memberi madhorot apapun kepada
mahkluk, kecuali ALLAH. Sakit termasuk ujian dan bisa di kurangi dengan
lantaran wiritan. Karena semua ada wiritannya.
8. Semua
yang ada, khususnya proses kehidupan merupakan sebuah pelajaran. Kita sebagai
pengamat dari proses sejarah, dahulu maupun sekarang. kita harus mampu
mengambil faedahnya untuk diterapkan dalam kehidupan kita. Jangan merepotkan
orang lain. Bertemanlah sesuai kebutuhan, karena hidup adalah menjalankan misi.
Jangan membedakan-bedakan, karena setiap ciptaan ada maksud dan tujuan
tersendiri.
9. Lakukan
dan perhatikanlah hal-hal yang kecil, jangan hal-hal yang besar saja. karena
hal yang kecil biasanya yang menentukan dan kualitas keikhlasannya lebih
tinggi. Apalagi hal kecil tersebut dibarengi dengan keistiqomahan.
10. Ilmu
adalah sebab dari beberapa sebab dari kesombongan. Ketika berilmu tinggi
disertai dengan kesombongan tidak ada arti semua ini, karena inti dari semua
ciptaan adalah terbentuknya rasa syukur. Ilmu adalah anugerah, wajib disyukuri.
Bersyukur melalui lisan, hati dan perbuatan.
“Ingat
ketika melakukan sesuatu, apapun itu, niatilah karena perintah ALLAH.”
Perintah
yang mana?
untuk
pencarian gunakan al-quran, hadits dan logika berdasarkan sosial budaya yang
berkembang saat ini.
(24 Juni 2014, Selasa)
No comments:
Post a Comment