Monday, March 24, 2014

One Family One enterpreuner
“Cinta Tanah Air"

Mata kuliah:sejarah filsafat cina modern kontemporer
Dosen:
Drs. Budi sutrisna M.Hum

                            Oleh  :
AHMAD YANI FATHUR ROHMAN
                   (13/349465/FI/03809)

            Seminar yang diadakan oleh fakultas filsafat UGM yang bertempat diaula filsafat berlangsung seru dan menarik (3/3). Seminar ini bertema one family one entrprener yang dipandu langsung oleh pendirinya yaitu khoirussalim, alumni filsafat 1986. Acara ini sifatnya wajib bagi mahasiswa tahun angkatan 2013, dalam acara juga terlihat bapak dekan dan beberapa staff fakultas filsafat UGM.
            Seminar ini mengingatkan sekaligus membangkitkan rasa nasionalisme. Ia, salim bermimpi ketika indonesia berusia satu abad, indonesia akan mengalami kebangkitan. Bangkit dalam segala bidang terutama kemandirian ekonomi. Sistem pendididikan diIndonesia adalah buruk kerena mulai dari TK sampai dengan perguruan tinggi hanya menyiapkan pengamat, pekerja dan pengkritik ekonomi. Tidak ada yang menciptakan pelaku utama ekonomi.
            Dengan merintis dari awal menjadikan persiapan lebih matang untuk menghadapi persaingan global. Hal ini sesuai dengan ajaran dari konfucius, tentang hao dan chung tzu. Konfucius menekankan agar setiap warga negara mempunyai jiwa-jiwa hao yang bisa bearti bakti kepada orang tua dan negara. Kita pasti sudah mengenal kata-kata ini, untuk membangun negara yang kuat dibutuhkan orang yang kuat dan tangguh, orang kuat dan tangguh hanya dapat lahir dari keluarga yang harmonis yang mencintai keluarganya. Awal dari timbulnya rasa nasionalisme adalah rasa ketentraman yang didapatkan didalam keluarga.
            Dua rasa tersebut harus berurutan, ketentraman keluarga dulu baru berlanjut kepada ketentraman negara. Ketentraman keluarga dapat terwujud apabila dalam diri anak ada rasa berbakti kepada orang tua. Dari unsur negara yang terkecil ini kita mencoba untuk membangun kesadaran nasionalisme. Nasionalisme memang bukan sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan apalagi dengan kultur budaya yang komplek seperti indonesia.  Hal inilah yang coba untuk dapat diparaktekkan dinegara indonesia. Dengan teori hao dari konfucius bangsa cina dapat menjadi negara yang disegani didunia internasional.
            Apakah bisa diterapkan teori hao dari cina di indonesia..? bila melihat dengan bermacam-macamnya kultur yang ada di indonesia sedikit banyak ada kemiripan dengan kultur bangsa cina. Bila ini sudah dapat diterapkan, indonesia bukan hanya omong kosong lagi untuk bisa menjadi negara yang disegani dikancah internasional. Karena jiwa-jiwa nasionalisme dengan sendirinya akan terdapat dalam jiwa pemuda indonesia. Ketika jiwa nasionalisme sudah tertancap dalam setiap warga negara, diharapkan akan muncul manusia-manusia unggul. Manusia unggul dalam konfucius disebut dengan chun tzu. Konfucius mensyaratkan chun tzu dengan dua arah, yaitu dengan proses dan demokrasi intelektual. Proses menyangkut segala macam perbuatan untuk mencapai sesuatu yang dianggap orang mulia. Ajaran konfucius bisa dikategorikan sebagai ajaran yang rasionalis. Maka dari itu dia menyadari bahwa tidak ada yang instan didunia nyata ini. Proses mau tidak mau harus dilaksanakan untuk setiap individu sebagai hukum alam.

            Setelah manusia berproses dengan hukum alam, ia harus siap dengan persaingan terutama persaingan intelektual. Dalam chun tzu intelektual menyakup dua hal, pendidikan dan etika atau kepribadian baik. Keduanya harus seimbang untuk mewujudkan negara yang maju dan makmur.

No comments:

Post a Comment