Tahun
baru 2014
Diakhir pengajian magribku pak kyai muhtarom ngendiko
begini “mari kita kirim al-fatihah yang dihadiahkan kepada gustijoyo adik dari
sultan HB X. Karena beliau akrab dengan dunia pesantren dan juga banyak
putra-putrinya yang mencari ilmu didunia pesantren. Meninggalnya gustijoyo tadi
jam sebelas siang di jakarta”. Setelah berujar demikian pak kyai langsung
komat-kamit sedikit sambil menundukkan pandangan ke arah bawah yang menampakkan
kewibawaanya. Alfatihah.... lansung teman-temanku yang berjumlah sekitar
sepuluh bersahut-sahutan dengan keras dan tartil diiringi suaranya pak kyai membaca
alfatihah. Alfatihah dibaca sampai 3 kali. seperti biasa sesudah ngaji khas
pondok krapyak untuk membaca doa yang awalannya berbunyi kalamun......
Sebelum pengajian dibuka dengan kata-kata alfatihah dari
pak kyai, beliau berujar “besok pengajian subuhnya libur”. seketika itu
bagaikan hujan turun dipadang pasir, hati saya senang sekali, karena nanti
malam bisa sepuas-puasnya menghabiskan malam di 0 KM jogja. 3 hari yang lalu,
memang sudah saya format ketika malam pergantian tahun saya harus menuntaskan
malam tersebut di 0 KM. Kesananya dari pondokku, komplek S, almunawwir jalan
kaki ke 0 KM, sekitar 3 Km dan itu kira-kira menghabiskan waktu satu jam perjalanan.
Ketika jarum jam menunjukkan angka sembilan, saya menagih
ucapan teman-temanku yang dulu rencananya mau ikutan mengabadikan kenangan
pergantian tahun di 0 KM. Tapi tenyata jawabannya di luar dugaanku sebelumnya,
mereka semua yang tadinya mengiyakan ajakanku, sekarang berbalik menolaknya
dengan alasan capek, tidak ada faedahnya dll yang pada intinya dia menanyakan
kembali nilai guna dari waktu yang kita sediakan untuk mengunjungi 0 KM. Khas
kayak pertanyaan dan ideologi dari kawan-kawan aliran pragmatisme dan
utilitiarisme. Tapi bukan ahmad yani fathur rohman namanya bila kerja sedikit
belum berhasil terus pasrah. Harus maksimal, kerahkan segala daya dan kemampuan
untuk merealisasikan tujuan awal yang sudah dipertimbangkan nilai dan
kemanfatannya.
Habis gelap terbitlah terang. Si aziz, yang menjadi ujung
pangkal ketidak setujuanku ide harus saya yakinkan dengan segala cara. Karena
si irfan dan si romi teman UGM tergantung dengan keberangkatan aziz, kalau aziz
berangkat mereka berdua akan berangkat, kalau tidak yaa mereka berdua tidak
berangkat. Jarum jam panjang menunjukkan angka 30 tapi saya belum lelah juga
untuk membujuk aziz. Dengan sedikit merendah dan memaksa akhir aziz mau juga
hehehehe....berhasil. akhirnya sekitar jam sepuluh kita berlima, saya, mas
tajuddin, romi ugm, aziz, irfan berangkat ke tempat tujuan.
Ditengah perjalanan saya menemukan ide bagaimana kalau
momen ini biar nilai kemanfaatanya bertambah dan menjadi pemicu kesemangatan
untuk mengawali aktifitas ditahun yang baru. Sambil menghirup udara dingin
habis hujan dan diiringi perbincangan seru, saya menyampaikan gagasan-gagasanku
kepada 2 sahabat tercintaku yang akan mewujudkan takdir tuhan. Orang pertama
yang menjadi mangsa gagasanku adalah romi,
tanpa pikir panjang dia langsung saja menyetujuinya, karena dia juga
berkeinginan mendapatkan gelar masternya dengan beasiswa di eth (eidgenossische
tecnische hochschule zurich), swiss. Mangsa kedua adalah aziz kebetulan dia
juga berkeinginan mendapatkan beasiswa S2 di durham, inggris.
Setelah menerobos beberapa titik kemacetan, akhirnya kita
sudah sampai juga di pintu gerbang masuk ke alun-alun utara. Kita bertiga telah
membuat kesepakatan untuk menuntaskan dan memutuskan nama geng kita beserta
filosofinya sebelum sampai di gerbang menuju altar. Syarat nama tersebut adalah
harus mewakili nama jawa, arab dan inggris. Disamping itu juga harus
mencerminkan kesemangatan untuk memaksimalkan potensi yang tersimpan pada
tiap-tiap anggota. Romi juga mengajukan syarat nama tersebut harus terdiri satu
kata, biar mudah diucapkan.
Akhirnya hampir sampai di mulut gerbang altar, tepatnya
didepan warung makan gudeg yu djum, aku mengusulkan kepada romi agar apapun
nama tersebut harus diawali dengan kata-kata ki. Yang menurut aku mempunyai
makna filosofi yang panjang menurut bahasa jawa. Tepat di bawah gerbang, kita
bertiga belum menemukan kata apa yang cocok untuk geng kita. Setelah menerobos
kerumunan orang yang telah berjejer rapi didepan pasar sekaten untuk menantikan
detik-detik pergantian tahun, si romi menemukan kata-kata yang cocok untuk geng
kita yaitu quantum (a sudden, great and important change, improvement or
development) alasan dia kata-kata tersebut mempunyai makna perubahan yang besar
dan penting. Menurut dia cocok dengan keadaan kita sekarang.
Musyawaroh kecil pun akhir dilakukan untuk mengawinkan
dua kata tersebut supaya menghasilkan makna dengan tujuan yang jelas. Singkat
cerita nama yang kita sepakati adalah “QIANTUM” qi menunjukkan nama panggilan
orang jawa yang di berikan kepada orang yang berilmu tinggi, berakhlak mulia,
sukses, beruntung, bermanfaat bagi seluruh alam. Kata qi diambil dari bunyi kata ki yang berasal
dari bahasa jawa, artinya sudah mewakili syarat kebahasaan jawa. Sedangkan
makna quantum seperti diatas. Dan kalau digabungkan dua kata tersebut akan mewakili
bahasa arab yang bermakna bangkitlah kamu semua dengan jiwa kemanusiaan, karna
ki dalam bahasa arab bermakna mukhotob perempuan. Yang kita inginkan dari
perempuan adalah jiwa-jiwa yang peka terhadap lingkungan sosial dan alam,
seperti lambang yang terdapat dalam filsafatnya lao tze. Filsafat lao tze
melambangkan kebajikan tertinggi dengan tiga lambang, bayi, perempuaan dan air.
Kesimpulannya kata “qiantum” harus mempunyai jiwa-jiwa perjuangan, dedikasi
disertai dengan gaya hidup yang sederhana. Melihat status kita bertiga yang
posisinya masih mahasisiwa S1 maka alur perjuanggan tidak dengan berkoar-koar
atau mendirikan yayasan atau apa, tapi dengan belajar semaksimal mungkin sesuai
dengan prodi masing-masing, disertai kerjasama dalam membantu untuk meraih
gelar master di eropa.
Setelah sempat ragu, sampai tidak kita di depan monumen sebelum
tahun berganti. Melihat kondisi keadaan yang sangat ramai sampai-sampai tidak
bisa bergerak kelihatannya tidak bisa. sementara itu, di depan bangunan cagar
budaya kantor BNI kami berlima di suguhi gemerlapan langit oleh cahaya api dari
kembang api. Yang membuat kita miris ketika melihat ada beberapa perempuan yang
pingsan, akibat berdesak-desakan dan udara kotor seperti kabut. Memang
sebelumnya tidak kita bayangkan kalau suasananya seramai ini. Apalagi udara
kotor dari kembang api yang terus menganggu pernapasan, meskipun di daerah
terbuka. Akhirnya ada kesempatan sedikit untuk meneruskan keinginan kita
sebelum deadline berakhir. Setelah sampai dipinggir monumen, ada satu rintangan
lagi yang harus kita pecahkan, yaitu melompat pagar tingginya sekitar 2 meter.
Kita berlima bahu membahu untuk mendorong pantatnya jangan sampai ada yang
jatuh apalagi kecantol di ujung besi yang berbentuk runcing.
Saat-saat yang di tunggu akhirnya sampai juga dan kami
bertiga sambil bergandengan tangan memproklamasikan janji kita untuk mengejar
semua impian-impian kita. Bunyi teksnya seperti ini:
Bismillahhirrohmanirrohim.....
Kami, putra bangsa indonesia
Berjanji untuk saling menguatkan diri
Dalam mewujudkan mimpi dan menyatukan hati
Memberi karya bagi agama, bangsa dan dunia
QIANTUM........ ahmad (oxford)..... romi (eth)...... aziz
(durham).....
Wujudkan...... kita sekarang berdiri didepan ratusan
orang yang termenung, dibawah gemerlapan langit oleh cahaya kembang api dan
didetik-detik 2014 kami bertiga bertekad untuk mewujudkan impian kita untuk
mendapatkan beasiswa master kita di eropa.
Sekarang...... 2014...
tiga tahun lagi, tahun 2017.... kita harus menginjakkan kaki kita di tanah
eropa untuk mendapatkan gelar master kita. Qiantum...... wujudkan.
Setelah mengucapkan ikrar tersebut kami berlima
bersenang-senang dengan kehadiran tahun baru, ada yang berfoto, bernyanyi dan
melompat-lompat kayak orang ita-itu gitu hehehe..... setelah menikmati suasana
malam tahun baru di 0 KM, kami bertiga sebelum pulang menulis tentang impian
kita. Untuk ditaruh di sekitar monumen dan mengenai tempatnya tidak ada yang
boleh tahu kecuali romi. Itupun harus tempat yang memungkinkan untuk bisa dilihat
tiga tahun kedepan. Proses ini pun memakan waktu yang cukup lama karena kita
menaruhnya jangan sampai ada orang yang tahu apalagi membongkarnya. Proses
itupun selesai dan sekarang kita pulang............... sampai di pondok sekitar
jam 2 dini hari.
Dan qiantum
pun lahir....
No comments:
Post a Comment