Sunday, January 5, 2014

Tahun baru 2014

            Diakhir pengajian magribku pak kyai muhtarom ngendiko begini “mari kita kirim al-fatihah yang dihadiahkan kepada gustijoyo adik dari sultan HB X. Karena beliau akrab dengan dunia pesantren dan juga banyak putra-putrinya yang mencari ilmu didunia pesantren. Meninggalnya gustijoyo tadi jam sebelas siang di jakarta”. Setelah berujar demikian pak kyai langsung komat-kamit sedikit sambil menundukkan pandangan ke arah bawah yang menampakkan kewibawaanya. Alfatihah.... lansung teman-temanku yang berjumlah sekitar sepuluh bersahut-sahutan dengan keras dan tartil diiringi suaranya pak kyai membaca alfatihah. Alfatihah dibaca sampai 3 kali. seperti biasa sesudah ngaji khas pondok krapyak untuk membaca doa yang awalannya berbunyi kalamun......
            Sebelum pengajian dibuka dengan kata-kata alfatihah dari pak kyai, beliau berujar “besok pengajian subuhnya libur”. seketika itu bagaikan hujan turun dipadang pasir, hati saya senang sekali, karena nanti malam bisa sepuas-puasnya menghabiskan malam di 0 KM jogja. 3 hari yang lalu, memang sudah saya format ketika malam pergantian tahun saya harus menuntaskan malam tersebut di 0 KM. Kesananya dari pondokku, komplek S, almunawwir jalan kaki ke 0 KM, sekitar 3 Km dan itu kira-kira menghabiskan waktu satu jam perjalanan.
            Ketika jarum jam menunjukkan angka sembilan, saya menagih ucapan teman-temanku yang dulu rencananya mau ikutan mengabadikan kenangan pergantian tahun di 0 KM. Tapi tenyata jawabannya di luar dugaanku sebelumnya, mereka semua yang tadinya mengiyakan ajakanku, sekarang berbalik menolaknya dengan alasan capek, tidak ada faedahnya dll yang pada intinya dia menanyakan kembali nilai guna dari waktu yang kita sediakan untuk mengunjungi 0 KM. Khas kayak pertanyaan dan ideologi dari kawan-kawan aliran pragmatisme dan utilitiarisme. Tapi bukan ahmad yani fathur rohman namanya bila kerja sedikit belum berhasil terus pasrah. Harus maksimal, kerahkan segala daya dan kemampuan untuk merealisasikan tujuan awal yang sudah dipertimbangkan nilai dan kemanfatannya.
            Habis gelap terbitlah terang. Si aziz, yang menjadi ujung pangkal ketidak setujuanku ide harus saya yakinkan dengan segala cara. Karena si irfan dan si romi teman UGM tergantung dengan keberangkatan aziz, kalau aziz berangkat mereka berdua akan berangkat, kalau tidak yaa mereka berdua tidak berangkat. Jarum jam panjang menunjukkan angka 30 tapi saya belum lelah juga untuk membujuk aziz. Dengan sedikit merendah dan memaksa akhir aziz mau juga hehehehe....berhasil. akhirnya sekitar jam sepuluh kita berlima, saya, mas tajuddin, romi ugm, aziz, irfan berangkat ke tempat tujuan.
            Ditengah perjalanan saya menemukan ide bagaimana kalau momen ini biar nilai kemanfaatanya bertambah dan menjadi pemicu kesemangatan untuk mengawali aktifitas ditahun yang baru. Sambil menghirup udara dingin habis hujan dan diiringi perbincangan seru, saya menyampaikan gagasan-gagasanku kepada 2 sahabat tercintaku yang akan mewujudkan takdir tuhan. Orang pertama yang menjadi  mangsa gagasanku adalah romi, tanpa pikir panjang dia langsung saja menyetujuinya, karena dia juga berkeinginan mendapatkan gelar masternya dengan beasiswa di eth (eidgenossische tecnische hochschule zurich), swiss. Mangsa kedua adalah aziz kebetulan dia juga berkeinginan mendapatkan beasiswa S2 di durham, inggris.
            Setelah menerobos beberapa titik kemacetan, akhirnya kita sudah sampai juga di pintu gerbang masuk ke alun-alun utara. Kita bertiga telah membuat kesepakatan untuk menuntaskan dan memutuskan nama geng kita beserta filosofinya sebelum sampai di gerbang menuju altar. Syarat nama tersebut adalah harus mewakili nama jawa, arab dan inggris. Disamping itu juga harus mencerminkan kesemangatan untuk memaksimalkan potensi yang tersimpan pada tiap-tiap anggota. Romi juga mengajukan syarat nama tersebut harus terdiri satu kata, biar mudah diucapkan.
            Akhirnya hampir sampai di mulut gerbang altar, tepatnya didepan warung makan gudeg yu djum, aku mengusulkan kepada romi agar apapun nama tersebut harus diawali dengan kata-kata ki. Yang menurut aku mempunyai makna filosofi yang panjang menurut bahasa jawa. Tepat di bawah gerbang, kita bertiga belum menemukan kata apa yang cocok untuk geng kita. Setelah menerobos kerumunan orang yang telah berjejer rapi didepan pasar sekaten untuk menantikan detik-detik pergantian tahun, si romi menemukan kata-kata yang cocok untuk geng kita yaitu quantum (a sudden, great and important change, improvement or development) alasan dia kata-kata tersebut mempunyai makna perubahan yang besar dan penting. Menurut dia cocok dengan keadaan kita sekarang.
            Musyawaroh kecil pun akhir dilakukan untuk mengawinkan dua kata tersebut supaya menghasilkan makna dengan tujuan yang jelas. Singkat cerita nama yang kita sepakati adalah “QIANTUM” qi menunjukkan nama panggilan orang jawa yang di berikan kepada orang yang berilmu tinggi, berakhlak mulia, sukses, beruntung, bermanfaat bagi seluruh alam. Kata  qi diambil dari bunyi kata ki yang berasal dari bahasa jawa, artinya sudah mewakili syarat kebahasaan jawa. Sedangkan makna quantum seperti diatas. Dan kalau digabungkan dua kata tersebut akan mewakili bahasa arab yang bermakna bangkitlah kamu semua dengan jiwa kemanusiaan, karna ki dalam bahasa arab bermakna mukhotob perempuan. Yang kita inginkan dari perempuan adalah jiwa-jiwa yang peka terhadap lingkungan sosial dan alam, seperti lambang yang terdapat dalam filsafatnya lao tze. Filsafat lao tze melambangkan kebajikan tertinggi dengan tiga lambang, bayi, perempuaan dan air. Kesimpulannya kata “qiantum” harus mempunyai jiwa-jiwa perjuangan, dedikasi disertai dengan gaya hidup yang sederhana. Melihat status kita bertiga yang posisinya masih mahasisiwa S1 maka alur perjuanggan tidak dengan berkoar-koar atau mendirikan yayasan atau apa, tapi dengan belajar semaksimal mungkin sesuai dengan prodi masing-masing, disertai kerjasama dalam membantu untuk meraih gelar master di eropa.
            Setelah sempat ragu, sampai tidak kita di depan monumen sebelum tahun berganti. Melihat kondisi keadaan yang sangat ramai sampai-sampai tidak bisa bergerak kelihatannya tidak bisa. sementara itu, di depan bangunan cagar budaya kantor BNI kami berlima di suguhi gemerlapan langit oleh cahaya api dari kembang api. Yang membuat kita miris ketika melihat ada beberapa perempuan yang pingsan, akibat berdesak-desakan dan udara kotor seperti kabut. Memang sebelumnya tidak kita bayangkan kalau suasananya seramai ini. Apalagi udara kotor dari kembang api yang terus menganggu pernapasan, meskipun di daerah terbuka. Akhirnya ada kesempatan sedikit untuk meneruskan keinginan kita sebelum deadline berakhir. Setelah sampai dipinggir monumen, ada satu rintangan lagi yang harus kita pecahkan, yaitu melompat pagar tingginya sekitar 2 meter. Kita berlima bahu membahu untuk mendorong pantatnya jangan sampai ada yang jatuh apalagi kecantol di ujung besi yang berbentuk runcing.
            Saat-saat yang di tunggu akhirnya sampai juga dan kami bertiga sambil bergandengan tangan memproklamasikan janji kita untuk mengejar semua impian-impian kita. Bunyi teksnya seperti ini:
                        Bismillahhirrohmanirrohim.....
            Kami, putra bangsa indonesia
            Berjanji untuk saling menguatkan diri
            Dalam mewujudkan mimpi dan menyatukan hati
            Memberi karya bagi agama, bangsa dan dunia
            QIANTUM........ ahmad (oxford)..... romi (eth)...... aziz (durham).....
            Wujudkan...... kita sekarang berdiri didepan ratusan orang yang termenung, dibawah gemerlapan langit oleh cahaya kembang api dan didetik-detik 2014 kami bertiga bertekad untuk mewujudkan impian kita untuk mendapatkan beasiswa master kita di eropa.
Sekarang...... 2014... tiga tahun lagi, tahun 2017.... kita harus menginjakkan kaki kita di tanah eropa untuk mendapatkan gelar master kita. Qiantum...... wujudkan.
            Setelah mengucapkan ikrar tersebut kami berlima bersenang-senang dengan kehadiran tahun baru, ada yang berfoto, bernyanyi dan melompat-lompat kayak orang ita-itu gitu hehehe..... setelah menikmati suasana malam tahun baru di 0 KM, kami bertiga sebelum pulang menulis tentang impian kita. Untuk ditaruh di sekitar monumen dan mengenai tempatnya tidak ada yang boleh tahu kecuali romi. Itupun harus tempat yang memungkinkan untuk bisa dilihat tiga tahun kedepan. Proses ini pun memakan waktu yang cukup lama karena kita menaruhnya jangan sampai ada orang yang tahu apalagi membongkarnya. Proses itupun selesai dan sekarang kita pulang............... sampai di pondok sekitar jam 2 dini hari.
Dan qiantum pun lahir....
   


No comments:

Post a Comment